Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Ketika Kamping Kami Malah Melakukan Hal ini Dengan Teman Kami

Sabtu , 7 Oktober 2017
Foto Ilustrasi Wanita Yang Aku Pakai Saat Kamping (GaleriQQ)



Agen BandarQ
Sebelum membaca cerita silahkan siapkan tisu terlebih dahulu,selamat menikmati

Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis.

Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Roni, dan Doni memilih mencari kayu bakar, sedangkan Rudi, Mei dan Dwi tetap tinggal di tenda.

Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Dwi memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Rudi adalah pacar Mei, dan Dwi tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Rudi dan Mei tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Roni, Doni, aku dan Dwi) segera melanjutkan perjalanan.

Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Mei sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Dwi. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Dwi sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Dwi sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Mei.

Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Rudi dan Mei di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Roni mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada.

Dwi boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Dwi setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Roni dan Doni turun ke sungai, lalu mandi di situ. Dwi kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.

Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Dwi menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Dwi (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai).

Roni yang pandai berenang segera menjemput Dwi, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Doni menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Dwi basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Roni menyentuh buah dada Dwi. Karena Dwi memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Dwi yang sangat menggairahkan.

Dwi merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Doni terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Roni yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Dwi lalu mencopot celana jeans Dwi sampai lutut. Dwi berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot.

Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Roni lakukan terhadap Dwi. Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Roni. Aku hanya menduga, Roni hendak memeriksa luka Dwi. Tapi dengan melorotnya jeans Dwi sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam Dwi yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.

Agen Bandar Sakong
Roni memerintahkan aku dan Doni memegangi kedua tangan Dwi. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Dwi semakin meronta sambil menghardik, “Rob, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.

Doni secepat kilat membungkam mulut Dwi dengan kedua telapak tangannya. Roni setelah berhasil mencopot celana jeans Dwi, sekarang mencoba mencopot celana dalam Dwi. Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku tidak berani melarang Roni dan Doni, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Dwi yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.

Dwi semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Doni membuat usahanya sia-sia belaka. Roni segera berlutut di antara kedua belah paha Dwi. Tangan kirinya menekan perut Dwi, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Dwi. Dwi semakin meronta, membuat Roni kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Doni mengambil inisiatif.

Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Dwi sambil tangannya terus membungkam mulut Dwi. Tiba-tiba Dwi berteriak keras sekali. Rupanya Roni berhasil merobek selaput dara Dwi dengan penisnya. Secara cepat Roni menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Dwi meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.

Doni melepaskan telapak tangannya dari mulut Dwi karena dia merasa Dwi tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Dwi ke atas. Di luar dugaan, Dwi kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Doni dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya. Luar biasa, tubuh Dwi dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.

Doni segera menjilati puting susu Dwi, sementara aku melihat Roni semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Dwi yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Dwi. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu.

Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Dwi rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.

Tiba-tiba aku mendengar Roni menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Dwi. Setengah menit kemudian Roni beranjak pergi dari tubuh Dwi lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Doni menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Dwi.

Sepintas aku melihat sperma Roni mengalir ke luar dari mulut vagina Dwi. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Dwi yang robek.

Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu. Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Dwi.

Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Dwi. Doni dan Roni menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Dwi. Aku peluk erat Tubuh Dwi sampai dia tidak dapat bernafas.

Baca juga : Setelah Resepsi Pernikahan Ku Ambil Keperawanannya ♥

Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Doni. Aku lalu duduk di samping Roni memandangi Doni yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Dwi. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.

Beberapa menit kemudian Doni ejakulasi di dalam vagina. Setelah Doni puas, ternyata Roni bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Dwi. Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Dwi hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Ternyata Roni hendak melakukan anal seks.

Dwi menjerit saat anusnya ditembus penis Roni. Mendengar itu Roni malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Dwi ke belakang hingga muka Dwi menengadah ke atas. Dengan sigap Doni menghampiri tubuh Dwi. Aku melihat Doni dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Dwi. Dwi mengiba, “Aduhh.., sudah dong Ro.., ampun.., sakit Rob”. Tapi Roni dan Doni tidak menghiraukannya.

Agen Bandar Poker
“Oh, sempit sekali”, teriak Roni mengomentari lubang dubur Dwi yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Roni menarik penisnya aku lihat dubur Dwi monyong. Sebaliknya saat Roni menusukkan penisnya, dubur Dwi menjadi kempot. Tidak lama, Roni mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Doni menyodomi Dwi.

Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Dwi. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.

Setelah Doni puas, Roni dan Doni menyuruhku menikmati tubuh Dwi. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Roni dan Doni segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Dwi dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya.

Aku tanyakan apakah Dwi mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Kuambil T-Shirtnya. Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. Roni dan Doni menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Dwi dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Roni dan Doni berjalan tujuh meter di depanku dan Dwi.

Di perkemahan, Rudi dan Mei menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Rudi dan Mei percaya, dan Dwi hanya diam saja.

Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Rudi berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.

Esoknya, pagi-pagi sekali Dwi minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Dwi merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Dwi menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.

Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Dwi minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.







































Posting Komentar

0 Komentar